Perjalanan Menuju Dunia Bicara Dan Mendengar


Suatu pagi di bulan September, saya dikirimi foto oleh suami, yang ternyata itu adalah foto Qina bersama saya pada empat tahun yang lalu. Saat itu kita sedang mewarnai di kamar rumah sakit. Foto itu diambil satu hari sebelum Qina menjalani operasi pemasangan implan koklea (cochlear implant), tepatnya 19 September 2015. Sontak mata saya berkaca-kaca. Sekelebat perjalanan Qina untuk bisa mendengar dan berbicara pun silih berganti keluar dari ingatan.

Yup.. Qina memang diketahui mengalami gangguan pendengaran sangat berat (>90db). Dia tidak bisa mendengar bahkan suara kencang seperti suara konser atau pesawat sekalipun. Bisa dikatakan Qina deaf atau tuli. Hal ini disebabkan karena sel-sel rambut pada rumah siputnya tidak berkembang seperti kita pada umumnya. Sehingga suara yang masuk tidak bisa dihantarkan ke otak.

Namun saat ini, berbagai cara bisa dilakukan untuk mengupayakan anak yang mengalami gangguan pendengaran bisa mendengar dan berbicara seperti anak yang lain. Tapi hal yang perlu digarisbawahi adalah bahwa setiap anak berbeda. Jangan menganggap sama hasil yang dicapai antara satu anak dengan anak yang lain. Karena kondisi bawaannya pun tidaklah sama. Yang perlu dilakukan adalah membentuk lingkungan dan dukungan yang baik bagi mereka, terus berusaha dan serahkanlah hasilnya pada Yang Di Atas.

Begitu pun Qina yang saat ini berumur 7 tahun 9 bulan. Sejak memakai ABD ataupun implan seperti sekarang, ditambah dengan berbagai rangkaian terapi, bisa dikatakan perjalanan menuju dunia bicara dan mendengarnya tidaklah mulus. Kondisinya saat ini bisa dikatakan masih di tahap belajar mendengar dan berbicara. Tapi pencapaiannya saat ini sangatlah membuat saya tak henti bersyukur dan terus berikhtiar. Berikut beberapa catatan perjalanan bicara dan mendengarnya yaa..

ABD (Alat Bantu Dengar)

Ini adalah alat bantu pendengaran pertama yang Qina pakai. Prinsip ABD ini sendiri bisa dikatakan berfungsi layaknya alat pengeras suara. Jadi, volume suara yang masuk lebih besar sehingga lebih mudah ditangkap oleh rumah siput.

Namun sepanjang menggunakan ABD ini, tampaknya tidak bisa maksimal untuk Qina. Hasilnya masih sangat jauh dari harapan karena memang kondisi pendengaran Qina sangatlah berat. Jadi bantuan ABD tidak cukup mampu membuat ambang dengar Qina mencapai zona dengar 20db.

Namun, ABD ini tidaklah sia-sia karena tetap diperlukan agar akifitas alat pendengaran tetap aktif. Sama seperti organ yang lain, jika tidak digunakan, lama-lama akan berkurang kemampuan fungsinya. Hmm..mungkin bisa dilihat pada orang yang cedera pada sebelah kakinya dan terpaksa memakai tongkat untuk berjalan. Kakinya yang cedera dan tidak dipakai untuk berjalan akan mengalami penyusutan massa otot dan melemah. Begitulah kira-kira andil ABD agar organ pendengaran Qina tetap aktif dan tidak berkurang fungsinya.

IMPLAN KOKLEA (Cochlear Implant)

Saat berumur 3 tahun 9 bulan, akhirnya Qina menjalani operasi pemasangan implan koklea di RS Premier Jatinegara dengan Dr. Harim. Sebelum proses pemasangan, banyak prosedur pemeriksaan yang harus dilakukan sebelumnya seperti MRI, CT-SCAN, ASSR dan imunasi PCV-Pevnar untuk mencegah meningitis. Untuk operasi sendiri berlangsung kira-kira 2 jam. Dan untuk Qina hanya dipasang pada satu telinga saja yaitu telinga kanannya.

Berbeda dengan ABD, implan koklea ini dilakukan dengan menanamkan elektroda di dalam telinga untuk menggantikan fungsi koklea yang rusak. Walaupun begitu, tetap ada alat yang dicantelkan di daun telinga sebagai penerima suara untuk diteruskan ke bagian implan di dalam telinga. Selanjutnya akan diteruskan ke elektroda yang nantinya akan dihantarkan ke saraf pendengaran dan berakhir di otak.

Setelah operasi pemasangan implan koklea

Setelah pemasangan implan, maka akan diperlukan waktu 3 minggu sampai 1 bulan untuk switch on atau pengaktifan alatnya. Setelah itu akan dilakukan mapping atau penyetingan program alat bersama audiologist.
Setelah switch on apakah si anak langsung bisa mendengar?
Jawabannya.. bisa ya dan bisa tidak.. Karena sampai sekarang tidak ada ilmu kedokteran manapun yang bisa memastikan kondisi saraf pendengaran seseorang. Jadi walaupun sudah diimplan, hanya Allah lah yang tahu apakah dia akan mampu mendengar atau tidak.

Jadi proses switch on itu sendiri juga membuat saya deg-deg an, apakah alat ini akan berfungsi bagi Qina atau tidak. Alhamdulillah, ternyata Qina bereaksi pada saat itu, walaupun pada awalnya masih disetting program dasarnya. Bisa dibilang Qina hanya bisa mendengar suara seperti bip bip saja.

Selanjutnya mapping akan dilakukan secara bertahap untuk meningkatkan program pada alat sampai dicapai program penerimaan suara yang optimal baik itu volume ataupun kualitasnya. Hal ini dilakukan agar anak tidak kaget ataupun stress mendengar suara. Karena suara itu sendiri adalah hal asing bagi mereka.

AVT (Auditory Verbal Therapy)

Setelah pemasangan implan, tidak serta merta Qina bisa mendengar dan berbicara. Bahkan anak yang baru lahir saja perlu waktu untuk berbicara bukan? Apalagi pengguna implan yang pendegarannya tidak sejernih pendengaran normal. Jadi melatih pengguna implan tidaklah sama dengan melatih anak normal lainnya. Salah satu metodenya adalah dengan AVT. Untuk AVT ini, Qina mengikuti AVT di Kasoem Hearing Center yang berlokasi di Lebak Bulus.

AVT

Prinsip AVT yang saya sadari selama menemani Qina terapi adalah bahwa terapi ini menekankan untuk meningkatkan kemampuan mendengar anak. Jadi kita diharapkan untuk berbicara di sebelah anak dan di dekat telinga anak, bukan di hadapannya. Jadi Qina pun terbiasa mendengar bukan membaca bibir ataupun gesture kita.

Selama proses terapi, alhamdulillah kemampuan Qina untuk mendengar pun menjadi terasah. Bahkan hasil aided test nya juga bagus dan sudah berada di zona ambang dengar normal sekitar 20dB. Namun untuk bicara dan pemahaman bahasanya masih belum berkembang, bahkan bisa dibilang stuck. 

Akhirnya setelah satu tahun menjalani AVT, therapist Qina saat itu pun menyarankan untuk diobservasi di Thepita. Dan hasil assesmentnya menyatakan bahwa kemampuan oral motornya belum terlalu berkembang. Rahang belum terlalu kuat dan organ di mulutnya seperti lidah, gusi dan bibirnya belum berkoordinasi dengan baik sehingga sulit untuk proses bicara. Salah satu akibat oral motor yang belum berkembang itu jugalah yang menyebabkan Qina menjadi picky eater. Sehingga untuk makanpun susah sekali, dan jenis makanannya hanya itu-itu saja. Sehingga akhirnya kita pun memutuskan untuk mencoba mengikuti terapi wicara yang termasuk di dalamnya terapi oral motor.

TERAPI WICARA (Terapi Oral Motor)

Pada awalnya kita akan mendaftarkan terapi wicara di thepita, tapi ternyata mereka punya cabang di dekat rumah dengan nama berbeda yaitu Rumah Terapi Warna. Alhamdulillah..cukup 15 menit dari rumah jika tidak macet..hehe..

Terapi wicara

Beberapa contoh kegiatan terapi oral motor yang diikuti Qina adalah seperti menggigit chewytubes, massage lidah, gusi dan bibir, meniup dan minum dengan sedotan yang panjang. Kegiatan seperti ini dimaksudkan untuk merangsang saraf oral motornya dan membangun kekuatan pada rongga mulutnya.  Dari sinilah diharapkan artikulasi dan proses bicaranya bisa lebih terbangun.

TERAPI SENSORI INTEGRASI

Setelah mendaftar di Rumah Terapi Warna, Qina juga diminta untuk diobservasi mengenai sensori integrasinya. Dan dari hasilnya menyatakan bahwa Qina adalah anak yang hypersensitive atau sangat sensitif. Sensitif di sini contohnya dalam indera perabaannya bisa dilihat kalau Qina sangat 'gelian'. Selain itu kekuatan inti tubuh dan ketahanananya juga sangat kurang. Oleh karena itu Qina perlu menjalani terapi SI (Sensori Integrasi). Inti dari terapi ini adalah bagaimana seluruh indera tubuh terintegrasi untuk memberikan informasi dan selanjutnya si anak bisa merespon dengan semestinya.

Kalau dilihat proses terapinya seperti bermain, contohnya meniti jembatan, trampolin, memanjat tangga, melempar bola bahkan menjepit kertas. Tapi semua kegiatan itu ada maksud dan tujuannya. Pada awalnya saya masih tidak terlalu yakin apakah cara ini akan efektif. Namun ternyata setelah 3 bulan mengikuti terapi SI dan ditambah terapi wicara, kemampuan Qina seperti tiba-tiba menjadi pesat. Yang pada awalnya hanya bisa mengucapkan kata-kata sederhana dengan tidak terlalu sempurna seperti ayah, mobil, mau dan bebek, tapi tiba-tiba Qina bisa paham tentang konsep warna dan nama-namanya. Padahal untuk mengajarkan tentang warna itu saya sudah mencoba berikan selama satu tahun lamanya, tapi seperti tidak nempel dan tidak kunjung paham.

Dan sekarang setelah 1 tahun lebih menjalani terapi SI, oral motor dan wicara, perkembangannya pun terus terlihat. Sekarang sudah mulai suka bicara, bercerita, dan berkomunikasi dengan sekitarnya. Kalau saya ibaratkan, terapi oral motor dan SI ini seperti membentuk adonannya. Jika bahannya belum lengkap dan adonannya belum siap, mau dimasak seperti apapun akan sulit. Jadi, dengan SI dan oral motor ini, semua saraf dan indra nya dirangsang agar matang dan berkembang sehingga siap menerima informasi dan materi terapi lainnya. 

Dan selain itu, masalah picky eater-nya pun ikut teratasi. Bahkan sekarang makannya sudah lahap dan bisa berulang-ulang. Jenis makanannya pun sudah mulai banyak.

SEKOLAH 

Mengenai sekolah, tentu setiap orang tua punya pertimbangan tersendiri dalam memilih sekolah untuk anak yang berkebutuhan khusus. Ada yang memilih sekolah khusus seperti sekolah luar biasa, homeschooling atau pun sekolah umum seperti yang Qina jalani. Sejak awal saya memang berkeinginan menyekolahkan Qina di sekolah umum. Harapan saya adalah agar Qina bisa bersosialisasi dengan dunia luar, dan kemampuan bicara dan komunikasinya pun lebih terasah jika berada di lingkungan bicara normal. Apalagi jika Qina bisa melihat teman-temannya yang lain berbicara, semangatnya untuk ikut bicara pun diharapkan lebih terpacu.

Namun, memilih sekolah yang cocok bukanlah perkara mudah, apalagi untuk sekolah di tingkat SD. Karena SD sudah mendapatkan beban akademik yang cukup berat dibandingkan TK yang cenderung tempat bermain. Jadi jangan sampai Qina yang kondisinya yang tidak sama menjadi stress dan berbalik dari semua harapan yang ada. 

Untuk itu, saya pun hunting selama hampir setahun lebih. Bolak-balik sana-sini tapi tidak ada yang cocok. Dalam pikiran saya, yang saya harapkan itu adalah sekolah yang tidak terlalu besar, yang murid per kelas nya pun tidak banyak sehingga semua anak pun terperhatikan, programnya pun yang tidak selalu mengejar akademik tapi lebih menekankan pada pembentukan karakter, sekolah yang menyenangkan buat anak dengan guru yang ramah anak dan ramah orang tua dan tentu saja mendukung anti bullying . Dan akhirnya, pencarian pun berakhir di SEKOLAH CITTA BANGSA CIBUBUR .Semua list harapan saya terwujud di sini.

Kegiatan Perkemahan di Sekolah Citta Bangsa

Di saat kegiatan 17 Agustusan

Dan Alhamdulillah setelah satu setengah tahun di sekolah ini, perkembangan Qina pun berkembang pesat. Sering sekali Qina mengucapkan kata-kata yang belum pernah saya ajarkan. Suasana belajar yang menyenangkan membuat Qina betah dan bersemangat sekolah. Bahkan perkembangannya pun bisa dilihat pada kegiatan bercerita yang selalu diadakan setiap hari Senin. Pada awal sekolah dulu, untuk mengingat kegiatan pada hari liburnya saja sangat sulit, apalagi untuk merangkai kata demi kata. Namun sekarang Qina sudah bisa menarik memorinya sendiri dan bercerita bahkan sampai beberapa kalimat. Kosakata pun sudah mulai banyak dan mudah bertambah. Sekarang sudah bisa dikatakan cerewet dan senang berbicara. Walaupun artikulasi dan susunan katanya belumlah sempurna. Namun saya bisa melihat bahwa program dari sekolahnya ini sangat mendukung perkembangan Qina. 

Dan saya juga bisa melihat juga peran serta guru dalam membimbingnya sangatlah besar. Bahkan sebelum pulang sekolah pun, seringkali gurunya meluangkan waktu untuk sekedar mengajarkan Qina membaca dan menulis agar kemampuan bahasa dan artikulasinya menjadi lebih baik. Bahkan guru olahraganya pun menyelipkan kegiatan selayaknya terapi SI, seperti merangkak dan melompat. 

Selain itu, teman-teman Qina di sekolah pun saya nilai sangat baik. Efek pembentukan karakter di sekolah pun bisa terlihat di sini. Mereka sangat perhatian bahkan sering membantu Qina seperti membantu memasangkan implannya kalau lepas, selalu bermain bersama bahkan membantu di saat belajar.

Dan akhirnya, selama perjalanan beberapa tahun ini, sangat besar rasa syukur saya kepada Allah untuk semua jawaban atas doa dan ikhtiar selama ini. Tentu Qina masih di awal perjalanannya. Semoga perjuangan dan ikhtiar dalam perjalanan ini semoga selalu diniatkan karena Allah dan kemampuan dengar dan bicaranya pun selalu Allah ridhoi.. 

Demikianlah catatan perjalanan bicara dan dengar Qina yang satu bulan lagi akan berumur 8 tahun. Semoga kita bertemu lagi di cerita perjalanannya selanjutnya yaaa... Luv..💖

You Might Also Like

0 komentar