Janganlah Takut Menjadi Diri Sendiri

Tangan-tangan itu sibuk memainkan layar ponselnya. Menggeser foto dari yang satu ke foto yang lain. Bergantian membaca caption dan cerita singkat yang disertakan. Mereka pelan-pelan tenggelam dalam dunia layar yang tampak selalu sempurna itu. Semua mudah didapatkan, mulai dari tren terkini, berita viral yang selalu saja menarik minat. Tak ketinggalan perihal dunia artis yang dulu terasa jauh dan glamor, sekarang dengan mudah diintip dan ditiru. Ya..semua kehidupan di luar sana memang tampak begitu sempurna, wajar bukan kalau kita tergoda melihatnya? Dunia kita pun terasa tak ada apa-apanya. Hingga pelan-pelan ingin tampak sama.


Itulah sedikit cerminan keseharian dunia kita saat ini. Semuanya seperti tak rela meninggalkan ponselnya. Merasa resah jika tak melihat dunia lewat layarnya. Tak sabar untuk segera membuka notifikasi. Selalu ingin menjadi yang terdepan dengan tren dan hal baru. Sepertinya semuanya mudah merasa takut, takut untuk menjadi merasa tertinggal atau tidak menjadi bagian dunia saat ini..


Lalu, memang salah untuk takut merasa tertinggal? Toh, kita hidup di zaman modern.. Bukannya harus maju dan tidak boleh ketinggalan? 

Ya, tidak ada salahnya untuk mendapatkan informasi ataupun berita, atau sekedar kabar orang-orang yang ingin kita dengar. Atau mengetahui kehidupan orang lain lewat media sosial mereka. Namun, yang perlu kita sadari adalah apakah semua hal yang kita lihat itu sudah menarik kita untuk mengikuti jalur mereka. Mengikuti setiap tren yang ada, atau pun latah dengan hal baru yang dibawakan. Jika kita hanya takut ketinggalan atau takut dibilang “gak gaul”.. maka berhentilah sebentar. Coba tanyakan kepada hatimu, apakah ini memang mengikuti kata hatimu? Apakah ini sudah sesuai kebutuhanmu? 

Jika jawabannya tidak, maka cobalah untuk berani, berani mengatakan tidak dan kembalilah kepada jati dirimu sendiri. 

Kalau bicara memang tampak mudah ya.. Walau tak semudah itu, tapi juga tidak terlalu sulit kok. Salah satu caranya adalah dengan membalikkan pandanganmu. Jika sebelumnya melihat orang lain, sekarang lihatlah dirimu sendiri. Perhatikan apa yang benar-benar kamu butuhkan, dan sesuai dengan porsimu.

Contoh nyatanya, jika melihat orang-orang berlibur dan healing ke pulau eksotis dan disuguhkan pemandangan laut dari kamarnya, tenaang.. tak perlu iri. Ingatlah kembali kesukaanmu.  Mungkin dengan buku-buku yang kau baca sembari tiduran d kamar. Ditemani cemilan dan segelas teh hangat sudah sangat menenangkan bukan? Atau jika kamu adalah sosok yang aktif, cobalah menikmati olahraga pagi sembari merasakan kebahagian dari setiap keringat dan lemak yang dikeluarkan. 

Intinya, tak perlu meniru dan melakukan hal yang sama. Tak perlu latah dan merasa tren adalah segalanya. Jalani hidup sesuai versimu.

Terakhir, ingatlah bahwa tren tentu akan hilang suatu waktu. Semuanya berputar, naik dan turun bergantian. Jika sibuk mengikutinya, itu tidak akan ada habisnya. Namun, jika mengikuti dirimu sendiri, itu akan menjadi garis yang bergerak naik mengikuti perkembangan dirimu. 
 


 


You Might Also Like

0 komentar