Pengalaman Membawa Anak ke Dokter Gigi

Beberapa saat yang lalu, saya mengecek kondisi gigi Qina yang saat itu masih berumur sembilan tahun. Dua gigi bagian atasnya tampak berwarna kemerahan. Berdasarkan pengalaman sebelumnya, kemerahan itu berasal dari warna daging gusinya yang tumbuh mengisi gigi yang sudah kosong. Kosong di sini maksudnya adalah gigi yang sudah mulai terkikis bagian dalamnya karena akan tanggal atau copot. Dua-duanya pun sudah dalam kondisi sedikit goyang. Selain itu di bagian bawah pun, salah satu taringnya ada yang goyang. Jadi saat itu,  ada tiga gigi yang sudah mulai menampakkan tanda-tanda akan tanggal di saat yang bersamaan.

Gigi-gigi Qina memang memiliki kecenderungan tanggal sebelum  jadwal pada umumnya. Bahkan normalnya giginya yang goyang itu biasanya akan tanggal di umur 12 tahun.  Selain itu, setelah gigi susu tanggal, kebanyakan gigi barunya tidak selalu langsung muncul. Ada yang butuh beberapa bulan untuk kelihatan. Sehingga saat ini giginya masih banyak yang kelihatan ompong.

Kondisi yang tidak biasanya ini tentu membuat saya sedikit khawatir. Ada keinginan untuk konsultasi dengan dokter gigi anak saat itu. Ditambah lagi, saya juga menemukan bahwa bagian gerahamnya ada yang sudah muncul gigi baru, sedangkan gigi sebelumnya belum goyang sama sekali. Akhirnya didorong oleh dua alasan itu, saya memutuskan untuk membawa Qina ke dokter gigi anak. 

Hal pertama yang saya lakukan adalah mencari dokter yang memang spesialis dokter gigi anak. Karena saya berharap, dokter tersebut akan lebih terbiasa menghadapi anak-anak. Alhamdulillah, pilihan saya tidak salah, dokternya ternyata sangat ramah dan sabar. 

Setelah meminta Qina duduk di kursi pemeriksaan, dokter pun bisa melihat bahwa memang ada gigi geraham yang harus dicabut saat itu. Namun, untuk gigi lainnya yang sudah goyang, dokter menyarankan untuk mencabutnya di lain waktu. Sebelum pencabutan gigi tersebut, dokter menerangkan kepada Qina bahwa giginya akan dicabut dan perlu dilakukan pembiusan. Dokter mencoba menusukkan alat tersebut ke jari Qina, untuk memberikan bayangan kepada Qina bahwa akan sedikit sakit seperti itu. Sehingga nantinya ia tidak akan kaget. Saya melihat pengenalan hal tersebut sangat penting untuk membangun kesiapan anak. Sehingga Alhamdulillah prosesnya berjalan sangat lancar. Qina bisa mencabut giginya dengan berani. Saya bisa melihat bahwa Qina pun merasa bangga setelah berhasil melakukannya.


Setelah proses pencabutannya selesai, dokter pun menerangkan bahwa gigi Qina memang lebih cepat tanggalnya. Bahkan di umur sembilan tahun ini, gigi yang belum tanggal hanya tersisa 4 lagi, bahkan beberapa di antaranya sudah goyang. Hal tersebut memang di luar kebiasaan normal. Tapi, jika dilihat bibit gigi barunya masih ada walaupun memang sedikit terlambat keluar. Selama bibit giginya masih ada, tidak ada yang perlu dikhawatirkan. 

Namun perlu digarisbawahi di sini adalah bahwa gigi Qina ini seperti gigi "prematur". Untuk itu jika gigi barunya nanti sudah lengkap semua, dokter menyarankan agar gigi Qina diberikan perawatan fluoride. Perawatan ini hanya berupa pemberian fluoride di semua giginya, lalu ditunggu beberapa menit dan selanjutnya bisa berkumur-kumur. Ya, hanya seperti itu saja. Tapi diharapkan ini bisa memperkuat gigi-giginya nanti. 

Begitulah pengalaman saat mengajak Qina ke dokter gigi. Bahkan, dua minggu kemudian pun kita kembali mengunjungi dokter gigi untuk mencabut giginya yang lain. Karena hal yang serupa dengan sebelumnya, yaitu gigi barunya yang sudah keluar miring dan gigi lamanya tidak mau tanggal. Ketika saya menanyakan kepada Qina apa pilihannya, Qina pun memilih untuk mencabut giginya di dokter gigi. Kunjungan kedua ini pun lancar dan Qina pun tetap berani menghadapinya. Alhamdulillah..

Secara umum, bagi seorang anak, mengunjungi dokter gigi dan kemungkinan akan ada proses pencabutan giginya, tentu bukanlah pengalaman yang menyenangkan baginya. Tak jarang anak-anak menjadi ketakutan. Bahkan orang dewasa sekalipun tentu tidak selalu nyaman untuk mengunjungi dokter gigi. Oleh karena itu, saya mulai memikirkan berbagai upaya untuk meminimalisir ketakutan tersebut dan menjadikan Qina lebih nyaman dan berani. Beberapa hal pun saya lakukan  untuk bisa membantu Qina melewati ini dengan berani.

Pengenalan awal

Hal pertama yang saya lakukan adalah menceritakan tentang kondisi giginya saat itu sambil memperlihatkan fotonya agar Qina bisa lebih memahami. Untuk metode penceritaan yang saya tekankan saat itu adalah dengan nada yang tenang dan tidak menakuti. Perlu menekankan bahwa ini tidak apa-apa, hal yang biasa saja. Saya menceritakan bahwa ada gigi baru yang akan tumbuh dan mendorong gigi lamanya. Jika gigi lamanya ini tidak diangkat, maka gigi barunya tidak akan bisa tumbuh dengan baik. 

Selain itu, saya juga memaparkan kondisi beberapa giginya yang sudah goyang dan beberapa di antaranya sudah tanggal lebih cepat. Selain itu, kenyataan bahwa gigi barunya masih ada yang belum muncul juga bisa diceritakan kepadanya. 

Menurut saya memberikan pemaparan agar Qina mengerti secara meyeluruh itu sangat penting, untuk mempersiapkan dirinya jika ada yang perlu diambil tindakan nantinya. Jadi, saat Qina berada di tempat dokter gigi nanti, Qina sudah siap dengan segala kondisi.  

Memberikan tontonan tentang dokter gigi

Beberapa video mengenai anak yang mengunjungi dokter gigi bisa ditemukan di youtube. Tapi sebelum memberikan video tersebut, cobalah lihat dan tonton sebelumnya untuk menyaring video yang sesuai harapan. Jangan sampai kita memberikan tontonan video anak yang menangis ketakutan di sana. Karena bukannya berani, bisa-bisa anak akan ikut merasa ketakutan dan menolak mengunjungi dokter. 

Dokter itu baik dan tidak menakutkan

Memberikan kesan akan dokter itu sudah dilakukan sejak anak kecil. Seringkali saya menemukan orang tua yang menjadikan dokter adalah salah satu bahan untuk menakut-nakuti anak. Contohnya, saat anaknya tidak mau makan atau tidak mau patuh, beberapa orang tua akan mengancam membawanya ke dokter. Beberapa di antaranya juga ada yang menakuti dengan ancaman disuntik dokter. Akhirnya dokter dan rumah sakit pun akan menjadi momok bagi si anak. 

Jadi, penting untuk memberikan kesan kepada anak bahwa dokter itu baik dan tidak menakutkan. Dokter sudah membantu untuk mengobati Qina supaya Qina bisa sehat dan bisa bermain kembali. Tidak lupa, sebelum meninggalkan ruangan dokter, saya mengajak Qina mengucapkan terimakasih kepada dokternya.

Hal-hal seperti ini memang dibangun sejak awal dulu saat Qina masih kecil. Sehingga, ketika harus mengunjungi dokter gigi seperti sekarang ini pun, Qina tidak merasa dokter gigi adalah sosok yang menakutkan. 

Memberikan permainan dokter gigi

Tidak jauh berbeda dengan cara sebelumnya, memberikan permainan dokter gigi yang bisa dtemukan di playsotore akan menambah pemahaman anak pada tindakan yang perlu dilakukan di dokter gigi. Beberapa contohnya adalah, menambal gigi yang berlubang, menggosok gigi saat gigi kotor, mencabut gigi yang goyang ataupun menambal gigi yang berlubang.  Selain itu, anak pun secara tidak sadar akan merasa santai dan tidak tegang lagi. 

Saat Qina memainkan permainan ini, saya juga menemaninya dan sesekali saya menerangkan beberapa hal yang bisa dilihat di dalam permainan tersebut, contohnya, bagaimana gigi yang kotor akan mengundang kuman sehingga perlu dibersihkan. Selain itu, dalam permainan tersebut, kita juga bisa menerangkan tentang gigi yang perlu dicabut jika sudah goyang. Permainan ini saya berikan juga saat berada di ruang tunggu agar Qina merasa lebih santai.

Memberikan pujian dan hadiah

Pada saat Qina diperiksa, proses pencabutan gigi maupun setelah selesai, saya selalu berupaya untuk memberikan pujian kepadanya. "Waah, Qina kereeen..sudah berani cabut gigi ". "Waah..tadi bubun lihat, di dokter giginya Qina sangat berani. Wow..Qina hebaaat yaa.." "Qina sudah besaaaar..sudah sembilan tahun, sudah berani cabut gigi di dokter gigi..". Tidak lupa juga untuk menambahkan dengan memberikan jempol, tepuk tangan dan pelukan. Akhirnya pujian-pujian tersebut juga akan menambah semangat dan kepercayaaandirinya.

Selain itu, setelah proses semua itu dilewati, tidak lupa saya juga menawarkan hadiah kepada Qina. Saya mengupayakan agar menawarkan hal seperti ini di akhir, bukan di awal atau sebelumnya agar apa yang Qina lakukan bukan semata-mata mengejar hadiah saja. Tapi tentu ini sesuai kondisi saja ya, sembari melihat kondisi anak masing-masing. 

Mengenai jenis hadiahnya tentu tidak perlu yang mahal-mahal. Saya pun mencoba menanyakan kepada Qina apa hadiah yang ia inginkan. Dan ternyata Qina meminta dibelikan chatime dan happytos, Waaah.. ternyata kebahagiaan anak bukan hanya dari mainan dan barang-barang mahal ya.. Bahkan minuman dan snack yang relatif terjangkau pun bisa menjadi sumber kebahagiaan mereka.  

Begitulah pengalaman Qina saat mengunjungi dokter gigi. Semoga memberikan manfaat bagi yang membaca ya..

You Might Also Like

0 comments